6.08.2011

MANTRA KAMASASTRA [SURAT SASTRA BUAT NUREL JAVISSYARQI]

Dimas Arika Mihardja

Sahabatku yang hebat,
Hari ini, Rabu 12 Mei 2011, tepat pukul 10.45 telah kuterima sepucuk surat-esai yang terbagi dalam VII bagian, lengkap dengan “Mulanya”, “Akhirnya”, dan “Lampiran” dua esai Sutardji Calzoum Bahcri. Telah tandas dan tuntas kubaca sepucuk surat darimu, pengelana dari bencah tanah Jawa (Lamongan) yang sekian lama tergoda oleh retorika bangsa Melayu yang santun dan pintar membuat orang lain senang.

Sutardji Calzoum Bachri (SCB) yang dulu saat mabuk berteriak lantang "Akulah Presiden Penyair Indonesia" pada tahun 70-an, saat beliau gencar memperkenalkan kumpulan puisi O AMUK KAPAK, dalam konteks tertentu tampil secara fenomenal dan bahkan kontroversial. Konon, penyair besar haruslah fenomenal dan jika perlu kontroversial. Pengakuannya sebagai presiden penyair Indonesia, lalu mencapai klimaknya saat dihelat Pekan Presiden Penyair dalaam rangka ulang tahun SCB, Juli 2007. Di perhelatan ini, saat itu saya juga diundang untuk menyemarakkan baca puisi di Taman Ismail Marzuki, antara lain terbit sebuah buku berjudul "Raja Mantra Presiden Penyair" (Yayasan Panggung Melayu, 2007) yang memuat belasan makalah dari dalam dan luar negeri.

Kini, tepat di bulan Mei 2011, seorang Nurel Javissyarqi, seorang yang mengaku sebagai pengelana dari bencah tanah awa (Lamongan) menyampaikan gugatan melalui esai panjang yang lalu dibukukan dengan judul "Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri" (SastraNESIA dan PUstaka puJAngga, 2011). Hal yang membuat Nurel Javissyarqi (NJ) tersentak ialah sebagian esai SCB yang menyatakan: "Peran penyair menjadi unik, karena --sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya--secara ekstrim boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya." Pernyataan SCB inilah yang merupaan minyak tanah yang menyalakan obor yang membakar pemikiran dan membarakan kegelisahan seorng NJ. NJ juga gelisah saat SCB mengawali tulisan esainya seperti ini: "Ketika Tuhan merindu menampilkan dirinya agar dikenal dan lepas dari kegelapan rahasia-Nya, Ia berfirman: Kun faya kun. Maka jadilah alam semesta ini." Esai SCB ini merupakan orasi budaya di dalam Pekan Presiden Penyair yang lalu dimuat di Republika 9 September 2007.

Menurut NJ, "Kekeliruan" penyair zaman dulu sampai sekarang, watak ugal-ugalannya karena merasa sudah sangat serius melakoni hayat bersastra dengan seluruh jiwa raga. Kesuntukan itu menggodanya meloloskan diri dari tanggung jawab dengan memanfaatkan ayat-ayat, nilai, dan corak lelaku sedurngnya sehingga abai pada kehidupan (hal. 23). Premis NJ inilah yang lalu dikembangbiakkan sebagai gugatan atas konsistensi SCB. Dalam konteks ini, menurut bahasa saya, alih-alih NJ mengatakan bahwa SCB termasuk penyair yang tidak konsisten, mencla-mencle, dan pada saat tertentu mengelak bertanggung jawab atas puisi-puisinya, dan pada kesempatan lain merasa perlu menerangjelaskan karyaa-karyanya sehingga para kritikus (yang memang kurang berkarakter) lalu terseret arus apa yang diinginkan oleh SCB.

SCB, menurut kredo puisinya, yang mengantar buku kumpulan puisinya O AMUK KAPAK (pernah diterbitkan oleh Sinar Harapan, 1981, dan Depdiknas, 2003) ingin membebaskan kata dari penjajahan makna, ingin mengembalikan pada kata pertama, yakni mantra. Realitasnya, kesan saya sama dengan NJ bahwa dalam puisi-puisinya SCB sekadar menjungkirnalikkan kata semaunya. Lalu setelah banyak pembaca dan kritisi dinilai kurang cerdas menangkap sinyal-sinyal puisi SCB, SCB yang semula emoh bertanggung jawab, lalu menulis pengangantar khusus untuk menerangjelaskan karya-karyanya. Dalam konteks ini lalu terlihat inkonsistensi kepenyairan SCB (pada satu ketika menolak bertanggung jawab dan pada ketika lain justru menerangjelaskan karya-karyanya).

NJ dalam esainya menampilkan begitu banyak referensi sebagai rujukan dalam mendedahkan Ayat-ayat Penyair yang juga kurang tepat dimanfaatkan oleh SCB. SCB mengerti ayat-ayat itu, namun seolah-olah mengabaikannya. Pada satu titik SCB menyamakan kinerja kepenyairan sama dengan kinerja Tuhan, bahwa Tuhan memiliki imajinasi, pelu pengakuan, dan sebagainya. Memang bisa jadi SCB ketika menampilkan Tuhan beserta imajinasinya sekedar untuk metafora, tetapi justru hal inilah (mempersamakan penyair dengan Tuhan) membuat NJ lalu melacak jejak Kitab-kitab yang disinyalir sebagai rujukan kepenyairan SCB (antara lain Ibnu Arabi). Lgi-lagi SCB dinilai inkonsistensi dalam hal imajinasi dan emanasi.

NJ juga mengugat pernyataan SCB terkait dengan teks Supah Pemuda sebagai puisi. Dalam hal ini NJ justru lebih menghargai Mohammad Yamin yang dengan cemerlang merumuskan teks Sumpah Pemuda itu ketimbang kredo kepenyairan SCB yang ternyata dingkarinya sendiri. Diingkari? Dalam konteks tertentu ya, sebab dalam kredonya SCB mengangkat marwah mantra di dalam puisi-puisinya, yang ingin melepaskan makna, atau membebaskan kata. Namun, dalam sajak "Walau" (hal.107) SCB justru menulis "walau huruf habislah sudah, alifbataku belum sebats allah". Nah, di sini juga tampak tidak konsistennya SCB. Lalu sajak-sajak SCB yang dipublikasi tahun 90-an justru telah mengigkari kredo puisi yang mengantar O AMUK KAPAK.

Aku menjadi tahu bagaimana kegelisahanmu sebagai penyair, pemikir, dan musyafir di dunia sastra dan budaya. Aku jadi tahu kitab-kitab yang telah kaubaca, japa mantra, dan ngelmu yang bersumber pada Kitab-Nya. Aku jadi tahu kegigihanmu merintis website sastra-indonesia.com dan aneka aktivitas kreatifmu. Terima kasih kuhaturkan. Usai membaca surat panjangmu yang berjudul”Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri” yang terbit sebagai buku oleh Penerbit SastraNESIA dan Pustaka puJAngga (Mei 2011: 100 hlm) amat memikatku dan mendorongku langsung menulis surat sastra ini.

Sahabatku, dengan cara dan gayaku, izinkan aku mulai menulis surat-puisi untukmu :

di balik puing-puing mantra kamasastra
aku menemukan ungkapan paling berharga
sebagai buah dari pengalaman. Aneka pengalaman puitis
tergali dari dasar kolam jiwa, kedalaman rasa
pengalaman puitik yang serupa khatarsis itu
menjadi monumen ketegaran sepanjang usia:
nafas boleh tersengal,
langkah boleh terjegal,
dan tertinggal, tapi JANGAN MAU TERAJAL

karnaval kata-kata itu lalu mengkristal
menjadi lilin yang menyerahkan cahaya
menjadi obor di kelam tanpa bebintang
menjadi matahari jingga yang menyala
lalu sebuah monumen terpahat di dada
di kepala
di segenap rasa
menjadi api pembakar semangat :
nafas boleh tersengal
langkah boleh terjegal
dan tertinggal tapi jangan mau terajal

di mata ini
poranda citra dan aroma mantra kamasastra
adalah lilin yang leleh demi memberi terang cahaya
di rawa-rawa hidup ini
panorama mantra menjelma kembang bakung tak peduli aroma
di telaga dan muara sisa-sisa mantra kamasastra adalah teratai putih berbunga padma
di taman ini makna mantra kamasastra adalah melati putih
dironce dan disemat di sanggul Ibu Pertiwi

***

begitu indahnya karunia setelah poranda mantra kamasastra mereda
begitu indahnya “bungahati” bernama puisi
sampai-sampai anak-anak menggubah dan mengubah puisi-puisi khusus
melukis kesejatian bencana
sampai-sampai mereka merasa tak kunjung mampu menuangkan perasaannya
sampai-sampai ada yang perasan perasaannya terlampau tandas
sampai-sampai air keindahan tumpah dan mengalir menuju sketsa wajah

Aku kabarkan padamu saat padam lampu
aneka macam perasaan berkecamuk
fisik terasa remuk
terasa ada sesuatu yang menumpuk
dan membuat terpuruk

nafas boleh tersengal
langkah boleh terjegal
dan tertinggal, TAPI JANGAN MAU TERAJAL

***

kulukis wajah Ibu Pertiwi dengan tangan gemetar
kejora itu, kembang mayang itu
beringin putih dan sulur-sulurnya itu
bibir itu
bunga bakung
pagar-pagar
mantra
doa
!
jadilah kartun hitam
kartun superhero
tak kenal sakit
tegar
!

nafas boleh tersengal,
langkah boleh terjegal,
dan tertinggal.
TAPI JANGAN MAU TERAJAL

+
-
X
:
=
*
@
#
$
%
&
?

hidup penuh tanda dan makna
aku disergap aneka tanda-tanda
ada degup rasa gugup
ada resah rasa gelisah
ada rindu rasa candu

ah
desah tembang itu
menjelma pagar-pagar
pengusir gusar
makna tembang itu
ah ah ah
menjelma risalah rajah-rajah
mantram-mantram menenteramkan
juga menenggelamkan
ah, sajadah basah
membasuh resah-resah

nafas boleh tersengal
langkah boleh terjegal
dan tertinggal
TAPI JANGAN MAU TERAJAL

aku tak pintar nembang,
itulah yang membuatku ngambang!
Aku tak pintar berenang,
itukah yang membuatku terbuang ke tanah seberang?
di sorga
Adam memakan buah Kuldi
dan Hawa memanen nyeri
hanya untuk memahami makna
dan degup hidup
sampai kapankah aku nembang?

begitu beragamnya karunia yang kita terima
terkadang
merasa sebatang kara
terkadang
merasa terlunta-lunta
terkadang
merasa lungkrah tak berdaya
kadang sepi mengiris-iris
kadang sunyi mendesis-desis
kadang terombang-ambing
terbanting
terasing
pusing
tapi

nafas boleh tersengal,
langkah boleh terjegal,
dan tertinggal.
TAPI JANGAN MAU TERAJAL

***

gempa masih mengguncang dada
goyangannya menorehkan rangkaian luka
dalang terus memainkan wayang
aneka watak, masalah, musibah
seperti banjir bah
goro-goro
salah mongso
ki dalang terus menembang
nada pelog, slendro, berbaur bergantian
gunung-gunung meletus
bumi gonjang-gajing
lautan menghempas badai
blencong terus mencorong

rangkaian kidung
mengendap di setiap kedung
mengalir dari hulu ke hilir
jadi sihir
sebelum kelir ditutup
peti wayang ditutup
dalang memainkan golek:
golekono aneka macam makna !
CARILAH ANEKA MACAM MAKNA

Demikian catatan sekilas lintas tentang inkonsistensi SCB, yang dalam beberapa hal sejalan dengan pemikiran NJ. Catatan akhir, dalam hal tertentu penyair harus bertanggung jawab atas kinerja kratifnya. Ia tak bisa melepaskan diri dari apa yang telah dihasilkannya. Memang dulu ada faham seni untuk seni dan bentrok dengan faham seni untuk masyarakat. SCB tampaknya ada di tengah-tengah (kalau tidak boleh dikatakan mudah berubah) di antara dua faham ini. SCB digugat oleh NJ bertolak dari cara dan gaya SCB meloloskan diri dari tanggung jawab dengan memanfaatkan ayat-ayat,nilai, dan corak lelaku sedurugnya sehingga abai pada kehidupan. NJ menutup esai panjangnya dengan kalimat seperti ini: "Demikianlah "hujatanku" kepada Sutardji Calzoum Bachri, seorang yang mengatakan Tuhan bermimpi, berimajinasi. Padahal sebaliknya ia suka berimajinasi,senang bermimpi. Karena Tuhan Maha Pengasih, maka angan-angan Tardji pun tercapai menjadi Presiden Penyair Indonesia dan Raja Mantra. Tentunya, dengan bobot tak faham Ibnu Arabi" (hal. 85). Begitu?

Jambi, 12 Mei 2011
Sumber: http://www.facebook.com/notes/dimas-arika-mihardja/mantra-kamasastra-surat-sastra-buat-nurel-javissyarqi/10150187117489368

Tidak ada komentar: