8.19.2019

Menemukan Ide Berkarya Melalui Pertanyaan

Chicilia Risca

Belajar selalu memiliki ruangnya tersendiri. Demikian halnya yang selalu dirasakan dan diterapkan oleh Nurel Javissyarqi. Pria yang berdomisili di Kabupaten Lamongan ini, mengawali hobinya dengan menggambar dan berkembang melukis di atas kanvas. Hingga Ia dipertemukan pada sang guru Pelukis, Tarmuzie.

Seiring berjalannya waktu, seorang Nurel Javissyarqi semakin tertarik untuk mendalami menggambar berkat kekagumannya pada sosok sang guru. Hingga dirinya menuangkan pada sebuah karya yang dibukukan dengan judul ‘Proses Kreatif Saya Bersama Pelukis Tarmuzie tepat lima hari setelah sang guru meninggal dunia.

Menurut Penulis, Robin Al Kautsar saat diskusi buku karya Nurel Javissyarqi pada Jumat (5/4) di warung Boengaketjil Parimono V/40 Jombang, “Buku yang menceritakan gambaran ringkas tentang penulis, perlahan mulai tertarik pada seni lukis dan mencoba memasuki. Namun justru dalam perjalanan Nurel Javissyarqi menemukan dunia kepenulisan atau sastra.”

Hal ini dibenarkan Nurel Javissyarqi sambil menyeruput secangkir kopi kemudian bercerita bahwa ketika dirinya sudah beranjak SMP, kehidupannya bersua dengan Tarmuzie. Diawal tahun, dirinya memutuskan untuk mengikuti kursus di Sanggar Lukis Alam.

“Namun proses ini terhenti ketika saya bersekolah di Madrasah Aliyah Negeri dalam lingkungan Pesantren Mamba'ul Ma'arid Denanyar Jombang. Tetapi hubungan baik dengan beliau selalu terjaga, pasalnya saya menganggap Tarmuzie sebagai ayah, kakak dan teman meski sudah menikah sekalipun,” terang pria yang sering dipanggil Nurel itu.

Ketika Nurel melanjutkan kuliah di Yogyakarta, gejolak rasa serta keinginan menjadi pelukis terbaik, hingga mencari dan mengunjungi para pelukis lain kenalan dari Tarmuzie. Namun hal mencengangkan malah didapati Nurel, yaitu pada kenyataannya para seniman mengalami kemiskinan. Hal ini dikarenakan ego sang seniman yang tidak menginginkan karyanya dibeli oleh penikmat seni lukis.

“Justru saya disana menemukan paradoks, kreativitas seniman ini sedang mengalami kevakuman, hingga sedikit karya-karya baru yang dilahirkan. Bahkan menjadi ‘pertapa’ menjauhi dunia kesenian,” terangnya saat diskusi berlangsung.

Disisi lain, fikirannya menjadi bercabang atas sutiasi yang dijumpai kala itu. Hingga seorang Nurel Javissyarqi pun mengekspresikan segala yang dirasakan melalui sastra. Tentu dengan beragam pendalaman atas pengamatan yang dirinya jumpai.

Pengamatan ini berlangsung dalam setiap Nurel Javissyarqi berpijak disuatu tempat. Hal ini menjadi sebuah pembelajaran baginya untuk menemukan suatu ide atas karya sastranya yang sudah berkembang kini. Baginya, ketika pengamatan atas suatu objek secara detail dicermati, akan muncul beragam pertanyaan. Serta jawabannya pun didapatkan dari penelusurannya dalam menikmati setiap waktu yang dilalui.

“Melalui diskusi inilah, saya berencana akan melakukan revisi yang nantinya terdapat penambahan pembahasan dari beberapa rekan penulis yang hadir. Sehingga buku yang menceritakan Tarmuzie menjadi semakin lengkap dalam rekaman karya sastra rekan penulis yang juga mengenalnya,” harap Nurel Javissyarqi.
***

http://www.majalahsuarapendidikan.com/2019/07/menemukan-ide-berkarya-melalui.html

Tidak ada komentar:

Label

A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi Adzka Haniina Al Barri Agama Para Bajingan Aguk Irawan MN Agus B. Harianto Akhmad Taufiq Ali Topan Diantoko Asap Studio Asarpin Awalludin GD Mualif Balada-balada Takdir Terlalu Dini Ballads of Too Early Destiny Berita Berita Utama Catatan Catatan KPM Chamim Kohari Chicilia Risca Christian Zervos Dami N. Toda Darju Prasetya Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dimas Arika Mihardja Dwi Cipta Dwi Pranoto Eka Budianta Esai Evan Ys Fahrudin Nasrulloh Fanani Rahman Fatah Anshori Fikri MS Gema Erika Nugroho Hadi Napster Hasnan Bachtiar Heri Listianto Herry Lamongan Hudan Hidayat Ignas Kleden Imam Nawawi Imamuddin SA Imron Tohari Inspiring Writer Inung AS Iskandar Noe Karya Lukisan: Andry Deblenk Kitab Para Malaikat Komunitas Deo Gratias Kritik Sastra Laksmi Shitaresmi Liza Wahyuninto Lukisan M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Maman S. Mahayana Marhalim Zaini Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri Mh Zaelani Tammaka Mofik el-abrar Muhammad Rain Muhammad Yasir Noor H. Dee Noval Jubbek Nurel Javissyarqi PDS H.B. Jassin Pengantar antologi puisi tunggal “Sarang Ruh” Pengantar KPM Picasso Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi) Puisi Rabindranath Tagore Rakai Lukman Raudal Tanjung Banua Rengga AP Resensi Robin Al Kautsar Sabrank Suparno Sajak Sampul Buku Saut Situmorang SelaSastra Boenga Ketjil Self Portrait Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siwi Dwi Saputro Sofyan RH. Zaid Sony Prasetyotomo Sunu Wasono Surat Suryanto Sastroatmodjo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Tarmuzie Taufiq Wr. Hidayat Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tosa Poetra Trilogi Kesadaran Universitas Jember Wawan Eko Yulianto Wawan Pinhole Yona Primadesi Yuval Noah Harari