4.15.2018

CATATAN DARI SEORANG PEMBACA

Iskandar Noe

1 . Tentang Saya Sebagai Pembaca

Sebelum menuliskan catatan tentang buku: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (Selanjutnya: MMKI), maka saya merasa perlu untuk menempatkan diri saya ditempat mana saya berada dalam konteks sebagai pembaca. Pertama, saya adalah orang yang gemar membaca, artinya gemar mendapatkan sesuatu berupa pengertian-pengertian baru, hiburan, dan sensasi-sensasi lain dari hasil pembacaan teks.
Dari alasan yang pertama ini terkandung cerita mengenai bagaimana saya mendapatkan buku MMKI. Ketika saya melihat paparan cover buku ini di Facebook (FB) sebenarnya saya sudah tertarik ingin membacanya, tetapi untuk pengadaan buku itu sudah terlambat, karena anggaran pembelian buku saya setiap bulan sudah meluncur ke tempat lain. Untunglah promotor buku ini berbaik hati untuk mencatat saya dalam daftar pre-order, hingga beberapa hari kemudian saya bisa menerima kiriman bukunya, dan kemudian berkesempatan membacanya. Alasan yang kedua adalah: Sebagai salah satu pembaca tentu saja saya tidak mewakili pembaca yang lain. Sebagaimana alasan pertama yang saya sebutkan tadi, membaca saya ibaratkan mirip dengan menonton suatu pertunjukan, entah itu pertunjukan wayang kulit, orkes dangdut, konser musik atau bioskop. Buku adalah tiket masuk, isi buku adalah tarian penulisnya dan saya menonton di situ. Sebagai penonton tentu saya berhak tertawa, tepuk-tangan bersorak, diam maupun berteriak1. Sama-sama menonton, posisi saya tentu berbeda dengan dewan juri yang berhak memberi nilai sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu untuk sebuah ajang pertunjukan kontes menyanyi misalnya. Tetapi saya masih berhak memilih juara favorit yang dipilih oleh para penonton. Disini saya mengupayakan sebagai penonton yang dengan serius dan takzim menonton dan menikmati pertunjukan selesai. Bayangkan sesudah pertunjukan, saya diwawancarai oleh seseorang dengan pertanyaan: “Bagaimana menurut anda pertunjukan tadi?” Jawaban yang saya berikan tentu saja tidak seluruhnya obyektif meskipun saya berusaha keras. Selalu saja ada unsur subyektivitas itu pasti2. Apalagi MMKI bukanlah buku biasa sebagaimana mengutip Tengsoe Tjahjono: Dalam buku ini Nurel dirangsang oleh tafsir Ignas Kleden atas puisi Sutardji Calzoum Bachri. Sebagai tafsir sangat mungkin subjektivitas Ignas Kleden muncul. Subjektivitas inilah yang mendorong subjektivitas Nurel membedahnya kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Buku ini merupakan kritik atas kritik. Subjektivitas atas subjektivitas3.

2 . Tentang Sosok Fisik Buku MMKI

Cover : Begitu saya menimang-nimang buku MMKI yang berukuran extra half quarto setebal tidak kurang 500 halaman ini, yang saya lakukan pertama adalah melihat cover halaman depan. Cover itu separuh diisi oleh lukisan surealistik dengan dominasi komposisi warna tanah yang tidak begitu menyolok: Sebuah perahu kayu dengan tulisan lambung huruf jawa dan hanya tersisa kata le-ga. Perahu itu ditumpangi mahluk jadi-jadian, dan tentakel besar menyeruak masuk ke lambung kapal. Nampak tatapan penumpang di anjungan itu tertuju kepada seseorang yang berjalan meninggalkan perahu dengan tutup kepala berupa kotak bujur sangkar yang diberi tanda tanya. Kaki seseorang itu dibelenggu dengan rantai dan bola. Separuh cover depan diisi dengan judul buku, diikuti dengan sebuah paragraf kutipan. Secara keseluruhan cover depan buku ini terasa berdesak-desak dengan pesan awal yang mau disampaikan, tetapi saking berdesak-desaknya teks dan gambar disitu, pembaca malah tidak dapat menagkap maksudnya secara optimal. Kutipan paragraf di depan nampak membingungkan, misalnya terbaca beberapa singkatan MASTERA, SCB yang baru diketahui setelah kita membuka bukunya. Demikian pula apa yang termuat di sampul belakang, sebagai pembaca saya berharap menemukan semacam endorsement atau testimoni yang berisi elusidasi 4. Maksud penulis dengan kutipan-kutipan yang terpampang di situ mungkin untuk menggarisbawahi bagian-bagian penting uraian yang ada di dalam buku. Semacam highlight. Tetapi yang ditemukan justru percikan kutipan-kutipan yang terkesan hilang ujung-pangkalnya.

Sub Titles: Memasuki halaman IV, halaman sub-titles, ditemukan nama-nama penyunting, setting-layout dan Design Cover. Saya menduga, penyunting bertindak juga sebagai proof-reader. Jika memang demikian, salah satu tugas penyunting adalah mengamankan seluruh maksud teks bahkan diharapkan tidak ada kesalahan sampai titik zero error. Adalah ironis jika buku segagah MMKI ini memiliki relatif banyak salah ketik atau bahkan menampilkan istilah maupun kosa kata baru yang pembaca harus meraba sendiri maksud istilah dan kosa kata itu. Catatan berkaitan dengan hal ini telah didaftar dengan cukup lengkap oleh Siwi D Saputro5. Bagi saya sebagai pembaca, kasus ini mengesankan kerja editor yang kurang teliti atau kalau tidak ya tergesa-gesa untuk kejar tayang, hingga apa boleh buat harus abai terhadap wilayah penting yang sebenarnya menjadi skala prioritas tampilan teks.

Pengantar dari Penulis: Halaman V, Pengantar dari Penulis. Saya mengharapkan adanya semacam keterangan tentang: How to Use This Book, artinya penulis mengantarkan kepada pembaca apa yang mau disampaikan oleh sekujur isi buku dalam bentuk sebuah ringkasan dengan paragraf tersendiri yang termuat dalam pengantar itu. Karena isi buku ini adalah mengkritik sebuah kritik, maka mau tak mau pembaca harus membaca lebih dulu apa yang dikritik. Materi yang dimaksud dilampirkan pada halaman Lampiran (halaman 411 dan seterusnya)6. Diharapkan juga, penulis mempersilahkan pembaca untuk “loncat” dulu ke Lampiran supaya membaca keseluruhan apa yang mau dikritisi, sehingga ketika memasuki Bagian 1 dan Bagian-Bagian selanjutnya, dengan serta merta pembaca sudah bisa mengikuti tiap paragraf yang dikritisi oleh penulis.

Bagian-Bagian: Terdapat dua puluh lima Bagian yang mengupas satu per satu paragraf. Sayang sekali tiap judul Bagian-Bagian tersebut hanya menyatakan judul yang serupa, dan menyatakan urutan angka kupasan saja yang berbeda. Misalnya: Bagian IV – Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan ketiga dari paragraf awal, lewat esainya Dr. Ignas Kleden). Sebagai pembaca saya lebih merasa nyaman jika pada judul setiap Bagian tidak melulu menampilkan urutan kupasan, tetapi mengandung sub-judul. Taruhlah misalnya pada Bagian II, setelah judul utama, dilengkapi sub-judul: Mengusut kata “Menerobos”, misalnya begitu. Jadi si pembaca akan lebih fokus akan maksud penulis bahwa di Bagian tersebut didedah kata “menerobos” dengan segala kaitannya. Hal ini diharapkan berlaku pada judul Bagian-Bagian yang lain. Sebagai pembaca, saya menemui kesulitan pada setiap bagian untuk menemukan hal terpenting apa sih yang akan disampaikan oleh penulis pada bagian tersebut. Saya seperti menikmati tarian elok yang ditarikan oleh penulis sepanjang tiap bagian, tetapi tidak menemukan hal kritis terpenting yang mau disampaikannya pada Bagian itu. Mungkin juga di wilayah ini, saya boleh dicurigai sebagai pembaca yang strukturalis, yang menuntut MMKI ditulis secara struktural sebagai layaknya textbook. Tetapi memang begitulah, karena MMKI adalah sekumpulan esai, bukan novel fiksi. Saya tidak keberatan dengan tarian yang dilakukan oleh penulis pada setiap Bagian yang ditulisnya, tetapi menurut saya, tarian itu beresiko mengendurkan daya kritik dan mengurangi daya ketajamannya. Maka pada setiap akhir Bagian, saya menyarankan disediakan sebuah paragraph yang berlaku sebagai epilog untuk menyimpulkan gagasan utama Bagian tersebut dan ringkasan kritik yang telah dituliskannya. Jika tidak demikian, maka tulisan setiap Bagian berkesan nggeladrah.

3 . Beberapa Simpulan

Sebagai Pembaca, saya merasakan perlu ekstra tenaga untuk membaca MMKI. Mempelajari dulu tulisan Ignas Kleden dan Sutardji Calzoum Bachri pada lampiran. Niscaya memang harus saya baca dulu agar memahami apa yang dikritik oleh penulis MMKI- Nurel.

Editor dari MMKI seharusnya tidak melakukan kesalahan, baik itu kesalahan typo dan salah cetak yang sejenis, demikian juga dengan istilah-istilah yang tidak baku dan relatif baru diberi catatan kaki, dan penjelasan seperlunya sehingga (dari sisi pembaca) pembacaan teks menjadi lebih nyaman tanpa pembiaran melewati teks-teks yang kurang dimengerti oleh pembaca.

Secara keseluruhan MMKI menyampaikan banyak pesan. Ini nampak pada kepiawaian penulis mengumpulkan sekian banyak potongan esai, sayang sekali tidak ada daftar bacaan dan referensi yang dicantumkan disana. Daftar referensi, Daftar Pustaka, menurut saya sangat penting, sebab orang hanya bisa berkarya dengan memakai pundak orang lain sebagai acuan. Hal ini selain sebagai penghargaan atas karya orang lain itu, juga untuk mempermudah pembaca mengenali urutan pemikiran yang disampaikan oleh penulis.

Catatan ini dibuat ketika pembacaan MMKI masih berlangsung, dan jangan lupa bahwa catatan ini disusun oleh seorang pembaca yang tidak mewakili pembaca lainnya, dengan kata lain barangkali mengandung lebih banyak subyektivitas daripada obyektivitasnya.

Wassalam. Ever Onward.

1. Menonton, dalam ungkapan Jawa: Ndelok, singkatan dari: Kendel alok atau berani berteriak.
2. Bandingkan misalnya dengan Martina Rysov√° pada Suroso @2015: Kritik sastra adalah bidang diskusi sastra, yang, melalui ulasan teks dan teks-teks lain bertujuan untuk menginterpretasikan, mengevaluasi dan mengklasifikasikan karya sastra. Kritik sastra bertujuan untuk membedakan dalam karya sastra nilai aktual dari yang tidak nyata, dan menilai serta mengevaluasi kualitas karya sastra. Meskipun kritik sastra berdasarkan aturan teori sastra, juga berlaku rasa estetika mereka, sehingga setiap kritik tidak dapat melepaskan kesan subjektif dari penulisnya.
3. Tengsoe Tjahjono sebagaimana dikutip Siwi D. Saputro; FB 31/03/2018
4. Perlakuan baik, semacam apresiasi ringkas.
5. Ibid, Siwi D Saputro, FB 31/03/2018.
6. Sebuah catatan tambahan, diharapkan Lampiran ini disertakan selengkapnya termasuk catatan kaki. (Lihat catatan kaki di halaman 424). Karena dari catatan kaki seringkali maksud teks dapat lebih diketahui maksudnya.

Tidak ada komentar: