6.05.2013

Rel, Masihkah Takdir Terlalu Dini

(Interpretasi puisi Fahrudin Nasrulloh yang bertitel
“Rel, Masihkah Takdir Terlalu Dini” sumber Jawa Pos, 2/6/2013)
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Tahun: 2013, Ukuran: A4
Media: Crayon on Paper

Rel, Masihkah Takdir Terlalu Dini
Fahrudin Nasrulloh

Rel, tanganku tak bisa jauh menuliskanmu. Kepingan-kepingan dunia berderak di mata kita. Apa kita sudah kalah. Apa kita sudah takluk pada nasib. Pada takdir. Kau pernah bilang, "di mana pun kita berpijak, di situlah tanah air kita." Aku sendiri tak bisa mengendalikan nasib. Sebab aku lama terlempar di sumurnya. Sedang kau diombang-ambingkan nasib. Diombang-ambingkan takdir. Sementara dulu kau bilang, "Takdir harus kita tuliskan sendiri dengan pena dan puisi." Tapi puisi, adalah kuda terbang bersayap gagak hitam, adalah penghancuran dari segala, adalah pembunuhan berkali-kali menikam. Kita musti kuat, Rel. Tak cukup kita menuliskan kekalahan-kekalahan cemerlang yang terlanjur mendekap erat ini.

Kita dikatai sudah mampus berkali-kali
Di padang suket teki ini
Kita harus bangkit, Rel
Tak ada jalan lain, tak ada jalan pintas

Dowong, 10 Maret 2013

* Judul "Rel, Masihkah Takdir Terlalu Dini" terambil inspirasinya dari judul kumpulan puisi "Balada-balada Takdir Terlalu Dini" karya Nurel Javissyarqi (PUstaka puJAngga, 2001).

Tidak ada komentar:

Label

A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi Adzka Haniina Al Barri Agama Para Bajingan Aguk Irawan MN Agus B. Harianto Akhmad Taufiq Ali Topan Diantoko Asap Studio Asarpin Awalludin GD Mualif Balada-balada Takdir Terlalu Dini Ballads of Too Early Destiny Berita Berita Utama Catatan Catatan KPM Chamim Kohari Chicilia Risca Christian Zervos Dami N. Toda Darju Prasetya Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dimas Arika Mihardja Dwi Cipta Dwi Pranoto Eka Budianta Esai Evan Ys Fahrudin Nasrulloh Fanani Rahman Fatah Anshori Fikri MS Gema Erika Nugroho Hadi Napster Hasnan Bachtiar Heri Listianto Herry Lamongan Hudan Hidayat Ignas Kleden Imam Nawawi Imamuddin SA Imron Tohari Inspiring Writer Inung AS Iskandar Noe Karya Lukisan: Andry Deblenk Kitab Para Malaikat Komunitas Deo Gratias Kritik Sastra Laksmi Shitaresmi Liza Wahyuninto Lukisan M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Maman S. Mahayana Marhalim Zaini Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri Mh Zaelani Tammaka Mofik el-abrar Muhammad Rain Muhammad Yasir Noor H. Dee Noval Jubbek Nurel Javissyarqi PDS H.B. Jassin Pengantar antologi puisi tunggal “Sarang Ruh” Pengantar KPM Picasso Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi) Puisi Rabindranath Tagore Rakai Lukman Raudal Tanjung Banua Rengga AP Resensi Robin Al Kautsar Sabrank Suparno Sajak Sampul Buku Saut Situmorang SelaSastra Boenga Ketjil Self Portrait Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siwi Dwi Saputro Sofyan RH. Zaid Sony Prasetyotomo Sunu Wasono Surat Suryanto Sastroatmodjo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Tarmuzie Taufiq Wr. Hidayat Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tosa Poetra Trilogi Kesadaran Universitas Jember Wawan Eko Yulianto Wawan Pinhole Yona Primadesi Yuval Noah Harari