Label

Nurel Javissyarqi Esai Kitab Para Malaikat Karya Lukisan: Andry Deblenk Media: Crayon on Paper Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri Kritik Sastra Hasnan Bachtiar Ignas Kleden Puisi Resensi Catatan Sutardji Calzoum Bachri Fahrudin Nasrulloh Robin Al Kautsar Sajak Surat Asarpin Awalludin GD Mualif Berita Utama Dimas Arika Mihardja Fikri MS Iskandar Noe Mahmud Jauhari Ali Maman S. Mahayana Muhammad Rain Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi) Sabrank Suparno SelaSastra Boenga Ketjil Siwi Dwi Saputro Sofyan RH. Zaid Suryanto Sastroatmodjo Tosa Poetra Trilogi Kesadaran A. Qorib Hidayatullah Adzka Haniina Al Barri Aguk Irawan MN Agus B. Harianto Ali Topan Diantoko Balada-balada Takdir Terlalu Dini Ballads of Too Early Destiny Catatan KPM Chamim Kohari Chicilia Risca Christian Zervos Dami N. Toda Darju Prasetya Denny Mizhar Dwi Cipta Eka Budianta Evan Ys Fanani Rahman Hadi Napster Heri Listianto Herry Lamongan Hudan Hidayat Imamuddin SA Imron Tohari Inspiring Writer Komunitas Deo Gratias Liza Wahyuninto Lukisan Marhalim Zaini Mh Zaelani Tammaka Mofik el-abrar Noor H. Dee Noval Jubbek PDS H.B. Jassin Pengantar KPM Pengantar antologi puisi tunggal “Sarang Ruh” Picasso Rabindranath Tagore Rakai Lukman Raudal Tanjung Banua Rengga AP Saut Situmorang Self Portrait Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sunu Wasono Sutejo Tarmuzie Tengsoe Tjahjono Wawan Eko Yulianto Wawan Pinhole Yona Primadesi

6.05.2013

Rel, Masihkah Takdir Terlalu Dini

(Interpretasi puisi Fahrudin Nasrulloh yang bertitel
“Rel, Masihkah Takdir Terlalu Dini” sumber Jawa Pos, 2/6/2013)
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Tahun: 2013, Ukuran: A4
Media: Crayon on Paper

Rel, Masihkah Takdir Terlalu Dini
Fahrudin Nasrulloh

Rel, tanganku tak bisa jauh menuliskanmu. Kepingan-kepingan dunia berderak di mata kita. Apa kita sudah kalah. Apa kita sudah takluk pada nasib. Pada takdir. Kau pernah bilang, "di mana pun kita berpijak, di situlah tanah air kita." Aku sendiri tak bisa mengendalikan nasib. Sebab aku lama terlempar di sumurnya. Sedang kau diombang-ambingkan nasib. Diombang-ambingkan takdir. Sementara dulu kau bilang, "Takdir harus kita tuliskan sendiri dengan pena dan puisi." Tapi puisi, adalah kuda terbang bersayap gagak hitam, adalah penghancuran dari segala, adalah pembunuhan berkali-kali menikam. Kita musti kuat, Rel. Tak cukup kita menuliskan kekalahan-kekalahan cemerlang yang terlanjur mendekap erat ini.

Kita dikatai sudah mampus berkali-kali
Di padang suket teki ini
Kita harus bangkit, Rel
Tak ada jalan lain, tak ada jalan pintas

Dowong, 10 Maret 2013

* Judul "Rel, Masihkah Takdir Terlalu Dini" terambil inspirasinya dari judul kumpulan puisi "Balada-balada Takdir Terlalu Dini" karya Nurel Javissyarqi (PUstaka puJAngga, 2001).

Tidak ada komentar: